sakura

Selasa, 18 November 2014

cerpen


BERI AKU WAKTU...
           
Hangatnya mentari pagi dan kicauan burung telah membangunkanku tepat pukul 05.30. Tapi rasanya aku masih enggan untuk beranjak dari kamarku, bahkan aku masih memikirkan kejadian yang satu bulan lalu aku alami. Cobaan terberat yang aku alami dalam hidupku yaitu  kehilangan seseorang yang amat sangat aku cintai didunia ini, yang rela mengorbankan seluruh hidupnya untukku. Mengasuh, menjaga serta merawatku tanpa pamrih. Kenangan sebulan lalu telah benar-benar mengubah hidupku saat ini. Kini aku hanya sendiri menjalani kehidupan ini tanpa
seorang ibu disisiku.
            Namaku adalah Sheryl, nama itu adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku sejak 17 tahun yang lalu. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Sebelum ibuku meninggal sebulan yang lalu aku tinggal bersamanya selama ini,seorang ibu yang hebat yang rela mengorbankan seluruh hidupnya untukku. Akan tetapi, aku telah melakukan hal yang salah, Aku telah menyia-nyiakannya dan durhaka padanya. Ketika ibuku masih hidup aku selalu meminta semua yang aku inginkan seperti tas, sepatu, baju dan sebagainya yang paling nge-hits saat ini. Aku juga suka pergi ketempat-tempat hiburan untuk memenuhi kesenangan sendiri. Aku ingin menikmati hidup ini dengan caraku sendiri, tanpa menghiraukan kata-kata orang.
            Aku sangatlah menghargai waktuku, sebagaimana aku menikmatinya. Cara menghargainya adalah dengan menggunakan waktuku untuk bersenang-senang. Malam hari di kota Jakarta  tampak sangat indah bila dibanding siang harinya. Biasanya, aku akan keluar rumah dan mengajak beberapa sahabatku untuk pergi ke nigth club. Pesan minuman dan menggoyangkan badan.
            Pada suatu ketika, aku pulang hingga larut malam. Aku terlalu banyak minum malam ini. Kepalaku pening, dunia seolah berputar. Sahabatku Shena  mengantarku sampai di depan pintu rumah. Setengah sadar aku gedor-gedor pintu. Aku melangkah dengan sempoyongan menuju kamarku di lantai dua. Samar-samar kudapati ibu mendekatiku.
            “Mabuk lagi, Syer?” suara ibu lirih menyapa
            “Siapa sih yang mabuk?” kataku dengan tidak jelas.
“Kamu ini anak perempuan Syer, tidak baik seperti ini terus. Apa kata tetangga jika  tahu kelakuanmu seperti ini..
“Hissss.. ibu diem deh mendingan, aku pusing”. Aku membentak ibuku
“Dengarkan ibu sekali saja Syer, berhentialah mabuk-mabukan. Ini tak baik nak.” Ibuku sembari menangis.
Ibu memapahku menaiki tangga demi tangga menuju kamarku, tapi aku tidak mau.
            “Minggir!” bentakku
Kudorong ibu keras-keras, ibu terjungkal. Sayup-sayup kudengar suara benturan, duggg!!! Aku tak peduli, bahkan aku terus berusaha untuk menuju kamarku.
            Pagi harinya, ketika aku bangun. Suara berisik terdengar. Aku melihat kebawah dan mengecek apa yang sedang terjadi. Ternyata itu adalah tangisan Bik Ijah. Bik Ijah adalah pembantuku sejak aku masih kecil. Keluargaku telah menganggapnya seperti saudara.
            “Bik, kenapa bibik menangis?” tanyaku pada bik ijah
            “i..i..ibu Non, ibu?”
            “Apa yang terjadi pada ibu bik?”
            “Ibu Non Syeril tadi malam pingsan dan saat ini dia berada di rumah sakit, dia sedang koma non.” Jawab bik Ijah sambil menangis tersedu-sedu
Aku demikian terkejut. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi malam. Ya Allah apa yang telah aku lakukan. Inilah kali pertama aku merasa khawatir akan kedaan ibuku. Ku ambil kunci mobil didekat kulkas, tanpa basa-basi aku langsung menuju ke rumah sakit dengan kecepatan penuh. Di sebuah perempatan nampak truk dari  arah berlawanan. Aku tidak bisa mengendalikan mobilku. Duaaar.. kecelakaanpun tak terelakkan lagi. Aku hanya berharap agar diberi waktu untuk bertemu dan meminta maaf pada ibuku. Aku pun tak sadarkan diri.

***
Beberapa hari kemudian, aku mulai tersadar. Akan tetapi, semua terasa gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Kudengar suara bik Ijah disampingku.
            “Bik, apa yang terjadi sama aku? Tanyaku
            “ Empat hari yang lalu Non Syeril kecelakaan dan Non Syeril divonis tidak dapat melihat lagi.” Jawab bik ijah dengan menangis
            “Apa bik? Benarkah? lalu, bagaimana keadaan ibu bik, aku ingin bertemu dengannya sekarang.” Pintaku
            “Tidak bisa Non, Non Syeril harus beristirahat. Sebentar lagi Dokter akan datang untuk membuka perban Non, sebentar lagi Non Syeril dapat melihat lagi.”
Dokter Raysa pun datang. Dia adalah dokter keluargaku.
            “Syeril, apa kamu sudah siap untuk membuka perbannya sekarang? Tanya dokter Raysa padaku
            “Iya dok, Syeril siap.”
            Kukumpulkan seribu kekuatan untuk mendongakkan kepala. Pelan-pelan kubuka mataku. Seberkas cahaya mulai terlihat. Nampak seorang dokter cantik di depanku, tak lain dan tak bukan itu adalah Dokter Raysa. Kulihat kekanan dan kekiri, disamping Dokter Raysa kudapati Bik Ijah mengusap air matanya dan mencoba menyembunyikan kesedihannya.
            “ Selamat ya Syer, kamu udah bisa melihat lagi.”
            “Iya Dok, sebenarnya siapa yang telah mendonorkan maatanya untuk ku ?”
            “Maaaf Syer, pihak rumah sakit tidak boleh memberitahu itu.” Dokter Raisya mengusap airmata nya.
            “Tapi dok, aku ingin balas budi padanya dan kenapa dokter Raisya menangis, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Maaf Syer,  tapi ini merupakan kode etik seorang dokter untuk tidak memberitahukan.”
Dokter Raisya pu meninggalkanku dengan bik Ijah.
            “Bik, antarkan aku menemui ibu ya!”
            “Baik Non, tapi Non Syeril janji ya tidak boleh sedih ataupun menangis.”
Aku semakin bingung dengan apa yang telah terjadi. Bik Ijah dan Pak Karto supirku mengantarkanku ke sebuah tempat. Tapi aneh sekali, mereka mengantarku ke pemakaman. Sampailah kami disebuah nisan bertuliskan “Ira Sulistya”. Tak lain dan tak bukan itu adalah nama ibuku. Aku tak percaya dengan ini semua. Belum sempat aku meminta maaf pada ibu. Tapi kenapa engkau mengambilnya, Ya Allah.
            “Bik, ini bukan makam ibu kan, ibu masih hidup kan bik?” tanyaku tak percaya
            “Ini makam Ibu Non, dia mengalami pendarahan otak yang luar biasa, sebelum dia pergi dia dia berpesan untuk mendonorkan mata pada non Syeril.”
“Kenapa bik Ijah baru ngomong sekarang.?”
“Maafkan bibik Non, Bibik hanya melaksanakan amanah dari ibu.”
Sungguh, Aku tak percaya akan semua ini. Ya Allah, kenapa Kau ambil nyawa ibuku dan kenapa Kau tak memberiku waktu sedikitpun  untuk meminta maaf dan  membahagiakan dia. Ya Allah, jiwa apa yang telah mencengkeramku selama ini, sehingga aku telah melupakan ibu yang telah mengorbankan hidupnya untukku. Aku malu pada diriku sendiri, Aku malu kepada ibu, dan aku juga malu kepadamu Ya Allah. Anak macam apa aku ini. Anak yang tidak bisa berbakti pada ibunya.
            Waktu demikian aneh menggulung-gulung nuraniku. Setelah aku tersadar dari lamunanku. Kumelihat jam dinding kamarku. Upsss.. waktu telah menunjukkan pukul 06.30 dan tanpa kusadari aku melamun hampir satu jam. Aku bergegas menyambar handukku dan pergi mandi. Sejak aku kehilangan sosok ibu, aku tidak lagi keluar rumah untuk bersenang-senang apalagi mabuk-mabukkan. Aku telah berjanji akan mendalami ilmu agama dan menata hidupku. Dan aku akan terus mendoakan ibu. Semoga dia bahagia di alam sana. Ibu maafkanlah anakmu ini...

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar