BERI AKU WAKTU...
Hangatnya mentari pagi
dan kicauan burung telah membangunkanku tepat pukul 05.30. Tapi rasanya aku
masih enggan untuk beranjak dari kamarku, bahkan aku masih memikirkan kejadian
yang satu bulan lalu aku alami. Cobaan terberat yang aku alami dalam hidupku
yaitu kehilangan seseorang yang amat
sangat aku cintai didunia ini, yang rela mengorbankan seluruh hidupnya untukku.
Mengasuh, menjaga serta merawatku tanpa pamrih. Kenangan sebulan lalu telah
benar-benar mengubah hidupku saat ini. Kini aku hanya sendiri menjalani kehidupan
ini tanpa
seorang ibu disisiku.
seorang ibu disisiku.
Namaku
adalah Sheryl, nama itu adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku sejak 17 tahun yang lalu. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Sebelum ibuku meninggal
sebulan yang lalu aku tinggal bersamanya selama ini,seorang ibu yang hebat yang
rela mengorbankan seluruh hidupnya untukku. Akan tetapi, aku telah melakukan
hal yang salah, Aku telah menyia-nyiakannya dan durhaka padanya. Ketika ibuku
masih hidup aku selalu meminta semua yang aku inginkan seperti tas, sepatu,
baju dan sebagainya yang paling nge-hits
saat ini. Aku juga suka pergi ketempat-tempat hiburan untuk memenuhi kesenangan
sendiri. Aku ingin menikmati hidup ini dengan caraku sendiri, tanpa
menghiraukan kata-kata orang.
Aku
sangatlah menghargai waktuku, sebagaimana aku menikmatinya. Cara menghargainya
adalah dengan menggunakan waktuku untuk bersenang-senang. Malam hari di kota
Jakarta tampak sangat indah bila
dibanding siang harinya. Biasanya, aku akan keluar rumah dan mengajak beberapa
sahabatku untuk pergi ke nigth club.
Pesan minuman dan menggoyangkan badan.
Pada
suatu ketika, aku pulang hingga larut malam. Aku terlalu banyak minum malam
ini. Kepalaku pening, dunia seolah berputar. Sahabatku Shena mengantarku sampai di depan pintu rumah.
Setengah sadar aku gedor-gedor pintu. Aku melangkah dengan sempoyongan menuju
kamarku di lantai dua. Samar-samar kudapati ibu mendekatiku.
“Mabuk
lagi, Syer?” suara ibu lirih menyapa
“Siapa
sih yang mabuk?” kataku dengan tidak jelas.
“Kamu
ini anak perempuan Syer, tidak baik seperti ini terus. Apa kata tetangga jika tahu kelakuanmu seperti ini..
“Hissss..
ibu diem deh mendingan, aku pusing”. Aku membentak ibuku
“Dengarkan
ibu sekali saja Syer, berhentialah mabuk-mabukan. Ini tak baik nak.” Ibuku
sembari menangis.
Ibu memapahku menaiki tangga demi tangga
menuju kamarku, tapi aku tidak mau.
“Minggir!”
bentakku
Kudorong ibu keras-keras, ibu
terjungkal. Sayup-sayup kudengar suara benturan, duggg!!! Aku tak peduli,
bahkan aku terus berusaha untuk menuju kamarku.
Pagi
harinya, ketika aku bangun. Suara berisik terdengar. Aku melihat kebawah dan
mengecek apa yang sedang terjadi. Ternyata itu adalah tangisan Bik Ijah. Bik
Ijah adalah pembantuku sejak aku masih kecil. Keluargaku telah menganggapnya
seperti saudara.
“Bik,
kenapa bibik menangis?” tanyaku pada bik ijah
“i..i..ibu
Non, ibu?”
“Apa
yang terjadi pada ibu bik?”
“Ibu
Non Syeril tadi malam pingsan dan saat ini dia berada di rumah sakit, dia
sedang koma non.” Jawab bik Ijah sambil menangis tersedu-sedu
Aku demikian terkejut.
Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi malam. Ya Allah apa yang telah aku
lakukan. Inilah kali pertama aku merasa khawatir akan kedaan ibuku. Ku ambil
kunci mobil didekat kulkas, tanpa basa-basi aku langsung menuju ke rumah sakit
dengan kecepatan penuh. Di sebuah perempatan nampak truk dari arah berlawanan. Aku tidak bisa mengendalikan
mobilku. Duaaar.. kecelakaanpun tak terelakkan lagi. Aku hanya berharap agar
diberi waktu untuk bertemu dan meminta maaf pada ibuku. Aku pun tak sadarkan
diri.
***
Beberapa hari kemudian,
aku mulai tersadar. Akan tetapi, semua terasa gelap. Aku tidak bisa melihat
apa-apa. Kudengar suara bik Ijah disampingku.
“Bik,
apa yang terjadi sama aku? Tanyaku
“ Empat
hari yang lalu Non Syeril kecelakaan dan Non Syeril divonis tidak dapat melihat
lagi.” Jawab bik ijah dengan menangis
“Apa
bik? Benarkah? lalu, bagaimana keadaan ibu bik, aku ingin bertemu dengannya
sekarang.” Pintaku
“Tidak
bisa Non, Non Syeril harus beristirahat. Sebentar lagi Dokter akan datang untuk
membuka perban Non, sebentar lagi Non Syeril dapat melihat lagi.”
Dokter Raysa pun datang. Dia adalah dokter
keluargaku.
“Syeril,
apa kamu sudah siap untuk membuka perbannya sekarang? Tanya dokter Raysa padaku
“Iya
dok, Syeril siap.”
Kukumpulkan
seribu kekuatan untuk mendongakkan kepala. Pelan-pelan kubuka mataku. Seberkas
cahaya mulai terlihat. Nampak seorang dokter cantik di depanku, tak lain dan
tak bukan itu adalah Dokter Raysa. Kulihat kekanan dan kekiri, disamping Dokter
Raysa kudapati Bik Ijah mengusap air matanya dan mencoba menyembunyikan
kesedihannya.
“
Selamat ya Syer, kamu udah bisa melihat lagi.”
“Iya
Dok, sebenarnya siapa yang telah mendonorkan maatanya untuk ku ?”
“Maaaf Syer, pihak rumah sakit tidak
boleh memberitahu itu.” Dokter Raisya mengusap airmata nya.
“Tapi dok, aku ingin balas budi
padanya dan kenapa dokter Raisya menangis, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Maaf
Syer, tapi ini merupakan kode etik
seorang dokter untuk tidak memberitahukan.”
Dokter Raisya pu meninggalkanku dengan
bik Ijah.
“Bik,
antarkan aku menemui ibu ya!”
“Baik
Non, tapi Non Syeril janji ya tidak boleh sedih ataupun menangis.”
Aku semakin bingung dengan apa yang
telah terjadi. Bik Ijah dan Pak Karto supirku mengantarkanku ke sebuah tempat.
Tapi aneh sekali, mereka mengantarku ke pemakaman. Sampailah kami disebuah
nisan bertuliskan “Ira Sulistya”. Tak lain dan tak bukan itu adalah nama ibuku.
Aku tak percaya dengan ini semua. Belum sempat aku meminta maaf pada ibu. Tapi
kenapa engkau mengambilnya, Ya Allah.
“Bik,
ini bukan makam ibu kan, ibu masih hidup kan bik?” tanyaku tak percaya
“Ini makam Ibu Non, dia mengalami
pendarahan otak yang luar biasa, sebelum dia pergi dia dia berpesan untuk
mendonorkan mata pada non Syeril.”
“Kenapa
bik Ijah baru ngomong sekarang.?”
“Maafkan
bibik Non, Bibik hanya melaksanakan amanah dari ibu.”
Sungguh, Aku tak percaya akan semua ini.
Ya Allah, kenapa Kau ambil nyawa ibuku dan kenapa Kau tak memberiku waktu
sedikitpun untuk meminta maaf dan membahagiakan dia. Ya Allah, jiwa apa yang
telah mencengkeramku selama ini, sehingga aku telah melupakan ibu yang telah
mengorbankan hidupnya untukku. Aku malu pada diriku sendiri, Aku malu kepada
ibu, dan aku juga malu kepadamu Ya Allah. Anak macam apa aku ini. Anak yang
tidak bisa berbakti pada ibunya.
Waktu
demikian aneh menggulung-gulung nuraniku. Setelah aku tersadar dari lamunanku.
Kumelihat jam dinding kamarku. Upsss.. waktu telah menunjukkan pukul 06.30 dan
tanpa kusadari aku melamun hampir satu jam. Aku bergegas menyambar handukku dan
pergi mandi. Sejak aku kehilangan sosok ibu, aku tidak lagi keluar rumah untuk
bersenang-senang apalagi mabuk-mabukkan. Aku telah berjanji akan mendalami ilmu
agama dan menata hidupku. Dan aku akan terus mendoakan ibu. Semoga dia bahagia
di alam sana. Ibu maafkanlah anakmu ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar